Minggu, 08 Februari 2015

Cerpen

Kandungan “SIMBOK”[1]
          Terdengar sentakkan dan isakan tangis gadis di kamar. Semua tercengang mendengarnya. Semilir angin malam di pesisir berhembus menuju pedesaan Dukuh. Diantara dedaunan terdapat tulisan kecil yang sudah kusam termakan waktu. Badan seorang gadis terlihat terkulai lemas di sebuah kursi kecil yang berada di ruangan sebelah kamarnya. Rambutnya di ikat kepang dua. Wajahnya terlihat pucat, bibirnya menggigil dengan kedua giginya merapat. Gatik.
          Wati…wati……..? Panggil simbok dengan cemas.
          Tak ada suara yang terdengar ditelinga Simbok. Simbok terbelalak memandang setiap sudut rumah. Tak ada nafas yang ia temukan. Ketika Simbok menelusuri bagian bawah meja dan sekitarnya tiba – tiba kakinya tersandung. Ia mulai menilik lebih dekat apa yang tersandung di kakinya.  
          Wati…..? Kenapa kamu nak?
          Bapak …. Bapak… wati kenapa bapak?
          Iya Mbok. Jawab Bapak.
          Bapak menuju Simbok. Dengan tergesa – gesa Bapak dan Simbok membawa Wati ke kamar. Ia tak sadarkan diri. Beberapa menit kemudian mata sayup Wati mulai membuka sedikit demi sedikit.
            Segelas air teh hangat Simbok seduhkan untuk buah hatinya yang masih saja terbaring di dipan kamar. Kondisi Wati mulai membaik. Wati sangat mengurungkan alasan kenapa ia sampai tergeletak di bawah. Bapak hendak bertanya pada Wati, menunggu esok hari agar Wati pulihkan dahulu keadaannya.
          Semalaman Simbok dan Bapak menyegarkan matanya dengan secangkir kopi manis. Pembicaraan Simbok dan Bapak menjurus pada Wati yang sudah dewasa dan sudah sepantasnya dijodohkan. Sebenarnya ini sudah dibicarakan beberapa hari yang lalu.
          Dua pertiga malam telah berlalu tanpa rasa kantuk Simbok dan Bapak. Sesekali Simbok melihat Wati yang sedang tertidur miring menghadap tembok yang berwarna biru sambil memeluk bantal guling.
          “Bapak, anak putri kita sudah dewasa. Sudah saatnya kita kenalkan Joko kepada Wati,” Ucap Simbok.
          “Ya Mbok. Bapak sudah memikirkan itu sejak Wati berumur 19 tahun. Kemarin Bapak ke rumah Pak Dirman untuk bertemu Joko. Tetapi, Joko sedang menangkap ikan di laut. Bapak ingin, kita membicarakan perjodohan ini dengan Joko dan Wati.”
          “Pa’ePa’e. Simbok kuatir Wati dan Joko tidak menyetujui hal ini. Padahal mereka sudah dijodohkan sejak dalam kandungan Simbok. Simbok tidak mau mereka berpisah. Selama 23 tahun kita sudah memisahkan mereka, kasian Pak.”
          “Sabar mbok. Jangan keras-keras nanti Wati bisa dengar pembicaraan kita.” Jawab Bapak dengan nada berbisik.
          Tubuh Wati berpindah kesana kesini, terlihat tidak tenang. Sejak dari tadi Wati memang mendengarkan pembicaraan Simbok dan Bapak dengan seksama. Sebenarnya Wati sudah dengar berita ini sejak beberapa hari yang lalu. Dan inilah yang membuat Wati berpikir keras bagaiman cara menolak permintaan rang tuanya.
          “Ya Robbi. Bagaimana jika perjodohan ini terjadi. Aku tidak tega dengan kang Yadi. Kenapa Bapak dan Ibu terus saja ngotot[2] menjodohkan aku dengan Joko. Apa alasan ibu?” Gundah Wati dalam hati.
          Suara jangkrik sudah mulai menghilang dan berganti jago yang bekokok pertanda hari mulai tersentuh matahari. Langit memerah. Atis[3]. Suara azan sebelum subuh mulai terdengar di Kampung Dukuh. Bapak dan Simbok menggelar sajadah di atas amben[4] meskipun belum sempat memejamkan mata.
          Sepi. Dingin. Tiba – tiba dari balik pintu Wati membuka pintu kamarnya perlahan dan menuju tempat wudhu. Setelah matahari mulai menyebarkan sinar, Wati jalan – jalan di sekitar tanggul[5] mengghirup udara pantai tuk menyerang rasa lemasnya.
          “Alangkah indahnya Desa ini ……………!!!” Ucap Wati sampail melentangkan kedua tangannya dengan sedikit memutarkan badan dan memejamkan mata.  Setelah ia membuka mata, ada sesosok pria di depan matanya dengan mengenakan kemeja biru, celana hitam. Tangannya dimasukkan ke saku. Kaki kanannya selangkah lebih maju sambil bersiul.
          “Cuit ……….. Cuit………….?”
          Wati langsung berbalik badannya dan melangkahkan kaki untuk meninggalkan tanggul. Ia tau kalau dia Joko, pria yang dijodohkan dengannya. Tapi, terdengar suara air sangat keras
          “Burrrrrrrrrrrr…………” Joko tercebur di sungai dekat tanggul.
          Mau tidak mau, Wati datang mendekat dan mengulurkan tangannya untuk menolong Joko. Joko menerima tangan Wati dengan perasaan dag dig dug. Dengan mengucapkan kata hamdalah, Joko dapat naik ke atas tanggul.
          “Terimakasih Wati.” Ucap Joko dengan malu – malu.
            Wati segera melangkahkan kakinya dan cepat – cepat meninggalkan Joko. Sesegera mungkin Joko mengibas – kibaskan bajunya yang basah terkena lumpur.                     Ketika Wati sampai di rumah, Simbok memanggil Wati dan menyuruh Wati duduk bersama Bapak. Wati sangat penasaran. Kenapa tidak angin – tidak ada hujan, Simbok tidak biasanya formal begini.
          “Ada apa Mbok? Apa Wati berbuat salah?
          “Tidak Wati, tapi Simbok mau memperkenalkan seseorang untukmu Wat.” Jawab Simbok.
          “Siapa Mbok?”
          Dari balik pintu terdengar suara salam dari seseorang lelaki muda berbaju hem pendek warna cokelat susu.
          “Assalamualaikum,”
          “Waalaikumsalam,” Jawab serentak dari keluarga Wati.
          “Silakan duduk, Nak. Kami sekeluarga sudah menunggu Nak Joko dari tadi,” sapa Simbok sambil mengarahkan tangannya ke arah kursi duduk. Dan Joo segera duduk sambil terpaku memandang wajah yang taka sing lagi. Sesosok perempuan cantik yang digodanya pagi tadi.
          “Maaf, kamu siapa kok disini?” Tanya Joko
          “Kenapa kamu yang tanya. Harusnya aku yang bertanya, ini kan rumahku.”
          “O… jadi kamu yang diceritakan Simbok selama ini?”
          Simbok memperhatikan Joko dan Wati dengan wajah riang gembira. Melihat buah hati yang selama ini dipisahkan bertahun – tahun. Matanya berlinang. Tapi Simbok dan Bapak segera melangsungkan niatnya untuk membicarakan tentang Joko dan Wati.
          “Nak, Joko dan Wati. Bapak mau bicara sama kalian. Karena kalian sudah dewasa dan sudah sepantasnya mengetahui kebenaran antara kalian. Sebenarnya kalian adalah sepasang Adam Hawa yang dilahirkan dari kandungan Simbokmu ini. Jika Adam dan Hawa bertemu di Jabal Rahma, maka kalian dipertemukan dalam satu ari – ari Simbok.”
          Joko dan Wati saling menatap. Kosong. Bunga jam 4 mulai sayup. Daun puti malu menguncupkan daunnya. Angin meliuk – liukkan pepohonan di sekitar rumah Wati. Tubuh Joko terkapar lemas sambil duduk di kursi.
           “Apa ini fakta?”
          Simbok, bapak bohong kan? mana mungkin bisa seperti ini. Wati tidak mau dijodohkan sama Joko. Titik.
          “Kenapa kalian dikumpulkan disini adalah agar kalian mengetahui kebenaran yang ada bahwa kalian akan segera kami jodohkan. Usia kalian sudah matang. Lagipula kalian sudah ditakdirkan berjodoh sama Allah. Ikuti saja Nak.”
          “Wati tidak mau Mbok, Pak. Wati sudah punya pilihan lain.”
            “Nak Joko, jangan dihiraukan kata - kata Wati. Wati memang begitu kalau lagi emosi. Nak Joko dan Wati adalah sekandung yang memang sudah dijohkan, jadi ikuti saja apa kehendak Allah. Kalau sampai menolak, maka kata orang zaman dulu itu ora ilok. Apa kalian mau dimurkai oleh Pangeran ?”
          Dari nenek moyang zaman dahulu kala, jika ada seorang anak laki – laki dan perempuan lahir secara bersamaan, maka mereka adalah jodoh yang nantinya akan hidup bersama. Jika mereka tak dijodohkan, maka ada salah satu yang meninggal. Budaya itu sudah dilakukan secara turun temurun.
          Wati tak ada alasan untuk menolak. Seperti petir yang menyambar di siang bolong. Jantung Wati bedebar – debar sambil sesekali melirik wajah Joko yang sama – sama bingung. Joko tak berucap. Hanya diam. Bisu. Tak lama kemudian, setelah berpamitan Joko beranjak meninggalkan rumah Wati. Langkah kakinya mengguncang bumi. Senja mengiringi kepergian Joko.
          Di sepertiga malam, Joko bermunajat pada Allah. Ia mengadu tentang perjodohannya dengan Wati yang sekandung.
          “Apakah boleh aku menikah dengan adikku sendiri Ya Allah? Bukankah dalam Islam tak boleh jika demikian? Tapi kenapa Bapak dan Simbok menjodohkanku dengan Wati. Meskipun sebenarnya aku memang sangat sayang sama Wati. Tapi, setelah aku tau bahwa Wati adalah adikku, aku tak bisa meminangnya.”
          “Tak dapat ku terima permintaan Bapak. Tapi ku ingin taat pada Bapak dan Simbok kandungku yang selama ini terpisah. Esok hari ku akan bertemu dengan Bapak untuk memberi keputusan.”
          Keesokan harinya, Joko berkunjung ke rumah Bapak. Ia mengadu semua masalah yang mengganjal di hati. Tapi hasilnya NIHIL. Joko dan Wati harus segera dinikahkan. Mereka bersikukuh menyampaikan argumentnya. Semua tak ada musyawarah. Keputusan Bapak dan Simbok tak bisa dirubah.
          Ketika pagi menjelang Bapak pergi ke sawah, Bapak melihat secarik amplop di depan pintu rumah yang tertulis nama Joko sebagai pengirim. Ia menuliskan bahwa ia setuju dengan perjodohan itu dan siap untuk segera menikah sebagai wujud ketaatan dia kepada kedua orang tua.
          Hari pernikahan Joko dan Wati jatuh pada jumat wage. Semua peralatan yang dibutuhkan Simbok siapkan dengan cepat. Wati tetap saja termenung melihat orang – orang sibuk menyiapkan acara pernikahannya.
          Malam ini penuh dengan tanda tanya.
          “Mengapa Joko yang sudah tau hukum pernikahan ini, ia tetap saja menyetujui? Andaikan hari ini aku bisa meminta padaMu Ya Allah, nikahkan aku dengan orang yang halal bagiku.” Pinta Wati dalam hati.
          Waktu telah menunjukan pukul 12.00, 1 jam lagi alam akan menyaksikan kisah perjodohan dua saudara. Angin mengibas – ibaskan tamanam di sekitar rumah Wati. Para tamu berdatangan dari segala penjuru desa. Semua ruangan sesak dengan orang – orang yang akan menyaksikan ijab qobul Wati dan Joko. Perjodohan Wati dan Joko adalah suatu kebanggaan bagi Desa Dukuh.
          Hari semakin panas. Suasana semakin ramai. Wati jalan menuju mushola denga diiringi shalawat oleh grup hadroh. Di mushola Joko sudah menunggu Wati.
          Sebelum ijab qabul dimulai, suasana semakin riuh dengan tawa bahagia semua hadirin. Dalam sekejap, mulai khidmat. Joko meminta waktu untuk menyampaikan beberapa hal kepada penghulu.
          “Hadirin yang kami hormati. Sebenarnya ada 1 hal yang akan saya sampaikan kepada para hadir. Pernikahan ini, bukanlah pernikahan saya dengan Wati, tapi yang lebih berhak adalah laki – laki di samping pintu yang menggunakan baju batik berwarna hijau. Sebelumnya saya mohon maaf jika sudah berbohong tentang pernikahan ini.
          Joko menghampiri laki - laki itu untuk dihadapkan dengan penghulu. Beberapa saat kemudian, Joko meninggalkan mushola dengan hati lega karena sudah melakukan apa yang terbaik untuk keadaan.
***

         

         
         
         
         

            

           





[1] Simbok adalah panggilan untuk ibu.
[2] Bersikap keras
[3] Dingin
[4] Dipan yang terbuat dari pelupuh bambu
[5] Tanah bergunduk di dekat sungai