Kandungan
“SIMBOK”[1]
Terdengar sentakkan
dan isakan tangis gadis di kamar. Semua tercengang mendengarnya. Semilir angin
malam di pesisir berhembus menuju pedesaan Dukuh. Diantara dedaunan terdapat
tulisan kecil yang sudah kusam termakan waktu. Badan seorang gadis terlihat
terkulai lemas di sebuah kursi kecil yang berada di ruangan sebelah kamarnya.
Rambutnya di ikat kepang dua. Wajahnya terlihat pucat, bibirnya menggigil
dengan kedua giginya merapat. Gatik.
Wati…wati……..?
Panggil simbok dengan cemas.
Tak ada suara yang terdengar
ditelinga Simbok. Simbok terbelalak memandang setiap sudut rumah. Tak ada nafas
yang ia temukan. Ketika Simbok menelusuri bagian bawah meja dan sekitarnya tiba
– tiba kakinya tersandung. Ia mulai menilik lebih dekat apa yang tersandung di
kakinya.
Wati…..? Kenapa kamu
nak?
Bapak …. Bapak… wati
kenapa bapak?
Iya Mbok. Jawab
Bapak.
Bapak menuju Simbok.
Dengan tergesa – gesa Bapak dan Simbok membawa Wati ke kamar. Ia tak sadarkan
diri. Beberapa menit kemudian mata sayup Wati mulai membuka sedikit demi
sedikit.
Segelas air teh hangat
Simbok seduhkan untuk buah hatinya yang masih saja terbaring di dipan kamar.
Kondisi Wati mulai membaik. Wati sangat mengurungkan alasan kenapa ia sampai tergeletak
di bawah. Bapak hendak bertanya pada Wati, menunggu esok hari agar Wati
pulihkan dahulu keadaannya.
Semalaman Simbok dan
Bapak menyegarkan matanya dengan secangkir kopi manis. Pembicaraan Simbok dan
Bapak menjurus pada Wati yang sudah dewasa dan sudah sepantasnya dijodohkan. Sebenarnya
ini sudah dibicarakan beberapa hari yang lalu.
Dua pertiga malam
telah berlalu tanpa rasa kantuk Simbok dan Bapak. Sesekali Simbok melihat Wati
yang sedang tertidur miring menghadap tembok yang berwarna biru sambil memeluk
bantal guling.
“Bapak, anak putri
kita sudah dewasa. Sudah saatnya kita kenalkan Joko kepada Wati,” Ucap Simbok.
“Ya Mbok. Bapak
sudah memikirkan itu sejak Wati berumur 19 tahun. Kemarin Bapak ke rumah Pak
Dirman untuk bertemu Joko. Tetapi, Joko sedang menangkap ikan di laut. Bapak
ingin, kita membicarakan perjodohan ini dengan Joko dan Wati.”
“Pa’e…Pa’e.
Simbok kuatir Wati dan Joko tidak menyetujui hal ini. Padahal mereka sudah
dijodohkan sejak dalam kandungan Simbok. Simbok tidak mau mereka berpisah.
Selama 23 tahun kita sudah memisahkan mereka, kasian Pak.”
“Sabar mbok. Jangan
keras-keras nanti Wati bisa dengar pembicaraan kita.” Jawab Bapak dengan nada
berbisik.
Tubuh Wati berpindah
kesana kesini, terlihat tidak tenang. Sejak dari tadi Wati memang mendengarkan
pembicaraan Simbok dan Bapak dengan seksama. Sebenarnya Wati sudah dengar
berita ini sejak beberapa hari yang lalu. Dan inilah yang membuat Wati berpikir
keras bagaiman cara menolak permintaan rang tuanya.
“Ya Robbi. Bagaimana
jika perjodohan ini terjadi. Aku tidak tega dengan kang Yadi. Kenapa Bapak dan
Ibu terus saja ngotot[2]
menjodohkan aku dengan Joko. Apa alasan ibu?” Gundah Wati dalam hati.
Suara jangkrik sudah
mulai menghilang dan berganti jago yang bekokok pertanda hari mulai tersentuh
matahari. Langit memerah. Atis[3].
Suara azan sebelum subuh mulai terdengar di Kampung Dukuh. Bapak dan Simbok
menggelar sajadah di atas amben[4]
meskipun belum sempat memejamkan mata.
Sepi. Dingin. Tiba –
tiba dari balik pintu Wati membuka pintu kamarnya perlahan dan menuju tempat
wudhu. Setelah matahari mulai menyebarkan sinar, Wati jalan – jalan di sekitar tanggul[5]
mengghirup udara pantai tuk menyerang rasa lemasnya.
“Alangkah indahnya
Desa ini ……………!!!” Ucap Wati sampail melentangkan kedua tangannya dengan
sedikit memutarkan badan dan memejamkan mata.
Setelah ia membuka mata, ada sesosok pria di depan matanya dengan
mengenakan kemeja biru, celana hitam. Tangannya dimasukkan ke saku. Kaki
kanannya selangkah lebih maju sambil bersiul.
“Cuit ………..
Cuit………….?”
Wati langsung berbalik
badannya dan melangkahkan kaki untuk meninggalkan tanggul. Ia tau kalau
dia Joko, pria yang dijodohkan dengannya. Tapi, terdengar suara air sangat
keras
“Burrrrrrrrrrrr…………”
Joko tercebur di sungai dekat tanggul.
Mau tidak mau, Wati
datang mendekat dan mengulurkan tangannya untuk menolong Joko. Joko menerima
tangan Wati dengan perasaan dag dig dug. Dengan mengucapkan kata
hamdalah, Joko dapat naik ke atas tanggul.
“Terimakasih Wati.”
Ucap Joko dengan malu – malu.
Wati segera
melangkahkan kakinya dan cepat – cepat meninggalkan Joko. Sesegera mungkin Joko
mengibas – kibaskan bajunya yang basah terkena lumpur. Ketika Wati
sampai di rumah, Simbok memanggil Wati dan menyuruh Wati duduk bersama Bapak.
Wati sangat penasaran. Kenapa tidak angin – tidak ada hujan, Simbok tidak
biasanya formal begini.
“Ada apa Mbok? Apa
Wati berbuat salah?
“Tidak Wati, tapi
Simbok mau memperkenalkan seseorang untukmu Wat.” Jawab Simbok.
“Siapa Mbok?”
Dari balik pintu
terdengar suara salam dari seseorang lelaki muda berbaju hem pendek warna
cokelat susu.
“Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam,”
Jawab serentak dari keluarga Wati.
“Silakan duduk, Nak.
Kami sekeluarga sudah menunggu Nak Joko dari tadi,” sapa Simbok sambil
mengarahkan tangannya ke arah kursi duduk. Dan Joo segera duduk sambil terpaku
memandang wajah yang taka sing lagi. Sesosok perempuan cantik yang digodanya
pagi tadi.
“Maaf, kamu siapa
kok disini?” Tanya Joko
“Kenapa kamu yang
tanya. Harusnya aku yang bertanya, ini kan rumahku.”
“O… jadi kamu yang
diceritakan Simbok selama ini?”
Simbok memperhatikan
Joko dan Wati dengan wajah riang gembira. Melihat buah hati yang selama ini
dipisahkan bertahun – tahun. Matanya berlinang. Tapi Simbok dan Bapak segera melangsungkan
niatnya untuk membicarakan tentang Joko dan Wati.
“Nak, Joko dan Wati.
Bapak mau bicara sama kalian. Karena kalian sudah dewasa dan sudah sepantasnya
mengetahui kebenaran antara kalian. Sebenarnya kalian adalah sepasang Adam Hawa
yang dilahirkan dari kandungan Simbokmu ini. Jika Adam dan Hawa bertemu di Jabal
Rahma, maka kalian dipertemukan dalam satu ari – ari Simbok.”
Joko dan Wati saling
menatap. Kosong. Bunga jam 4 mulai sayup. Daun puti malu menguncupkan daunnya.
Angin meliuk – liukkan pepohonan di sekitar rumah Wati. Tubuh Joko terkapar
lemas sambil duduk di kursi.
“Apa ini fakta?”
Simbok, bapak bohong
kan? mana mungkin bisa seperti ini. Wati tidak mau dijodohkan sama Joko. Titik.
“Kenapa kalian
dikumpulkan disini adalah agar kalian mengetahui kebenaran yang ada bahwa
kalian akan segera kami jodohkan. Usia kalian sudah matang. Lagipula kalian
sudah ditakdirkan berjodoh sama Allah. Ikuti saja Nak.”
“Wati tidak mau Mbok, Pak. Wati sudah punya pilihan lain.”
“Nak Joko,
jangan dihiraukan kata - kata Wati. Wati memang begitu kalau lagi emosi. Nak
Joko dan Wati adalah sekandung yang memang sudah dijohkan, jadi ikuti saja apa
kehendak Allah. Kalau sampai menolak, maka kata orang zaman dulu itu ora
ilok. Apa kalian mau dimurkai oleh Pangeran ?”
Dari nenek moyang
zaman dahulu kala, jika ada seorang anak laki – laki dan perempuan lahir secara
bersamaan, maka mereka adalah jodoh yang nantinya akan hidup bersama. Jika
mereka tak dijodohkan, maka ada salah satu yang meninggal. Budaya itu sudah
dilakukan secara turun temurun.
Wati tak ada alasan
untuk menolak. Seperti petir yang menyambar di siang bolong. Jantung Wati
bedebar – debar sambil sesekali melirik wajah Joko yang sama – sama bingung.
Joko tak berucap. Hanya diam. Bisu. Tak lama kemudian, setelah berpamitan Joko
beranjak meninggalkan rumah Wati. Langkah kakinya mengguncang bumi. Senja
mengiringi kepergian Joko.
Di sepertiga malam,
Joko bermunajat pada Allah. Ia mengadu tentang perjodohannya dengan Wati yang
sekandung.
“Apakah boleh aku
menikah dengan adikku sendiri Ya Allah? Bukankah dalam Islam tak boleh jika
demikian? Tapi kenapa Bapak dan Simbok menjodohkanku dengan Wati. Meskipun
sebenarnya aku memang sangat sayang sama Wati. Tapi, setelah aku tau bahwa Wati
adalah adikku, aku tak bisa meminangnya.”
“Tak dapat ku terima
permintaan Bapak. Tapi ku ingin taat pada Bapak dan Simbok kandungku yang
selama ini terpisah. Esok hari ku akan bertemu dengan Bapak untuk memberi
keputusan.”
Keesokan harinya,
Joko berkunjung ke rumah Bapak. Ia mengadu semua masalah yang mengganjal di
hati. Tapi hasilnya NIHIL. Joko dan Wati harus segera dinikahkan. Mereka
bersikukuh menyampaikan argumentnya. Semua tak ada musyawarah. Keputusan Bapak
dan Simbok tak bisa dirubah.
Ketika pagi
menjelang Bapak pergi ke sawah, Bapak melihat secarik amplop di depan pintu
rumah yang tertulis nama Joko sebagai pengirim. Ia menuliskan bahwa ia setuju
dengan perjodohan itu dan siap untuk segera menikah sebagai wujud ketaatan dia
kepada kedua orang tua.
Hari pernikahan Joko
dan Wati jatuh pada jumat wage. Semua peralatan yang dibutuhkan Simbok siapkan
dengan cepat. Wati tetap saja termenung melihat orang – orang sibuk menyiapkan
acara pernikahannya.
Malam ini penuh
dengan tanda tanya.
“Mengapa Joko yang
sudah tau hukum pernikahan ini, ia tetap saja menyetujui? Andaikan hari ini aku
bisa meminta padaMu Ya Allah, nikahkan aku dengan orang yang halal bagiku.”
Pinta Wati dalam hati.
Waktu telah
menunjukan pukul 12.00, 1 jam lagi alam akan menyaksikan kisah perjodohan dua
saudara. Angin mengibas – ibaskan tamanam di sekitar rumah Wati. Para tamu
berdatangan dari segala penjuru desa. Semua ruangan sesak dengan orang – orang
yang akan menyaksikan ijab qobul Wati dan Joko. Perjodohan Wati dan Joko adalah
suatu kebanggaan bagi Desa Dukuh.
Hari semakin panas.
Suasana semakin ramai. Wati jalan menuju mushola denga diiringi shalawat oleh
grup hadroh. Di mushola Joko sudah menunggu Wati.
Sebelum ijab qabul
dimulai, suasana semakin riuh dengan tawa bahagia semua hadirin. Dalam sekejap,
mulai khidmat. Joko meminta waktu untuk menyampaikan beberapa hal kepada
penghulu.
“Hadirin yang kami
hormati. Sebenarnya ada 1 hal yang akan saya sampaikan kepada para hadir. Pernikahan
ini, bukanlah pernikahan saya dengan Wati, tapi yang lebih berhak adalah laki –
laki di samping pintu yang menggunakan baju batik berwarna hijau. Sebelumnya saya
mohon maaf jika sudah berbohong tentang pernikahan ini.
Joko menghampiri
laki - laki itu untuk dihadapkan dengan penghulu. Beberapa saat kemudian, Joko
meninggalkan mushola dengan hati lega karena sudah melakukan apa yang terbaik
untuk keadaan.
***