Biarkan masa lalu mencari tanah untuk mengubur dirinya,, berpijaklah untuk masa depan. Carilah pegangan yang kuat untuk bekal
Safitri eL Khansa
Tirai saja tak cukup untuk menutupi rusaknya dinding. Maka bangunlah kembali dan cari cat yang dapat mengindahkannya kembali
Safitri eL Khansa
Dunia Khayal
Senin, 13 April 2015
Minggu, 08 Februari 2015
Cerpen
Kandungan
“SIMBOK”[1]
Terdengar sentakkan
dan isakan tangis gadis di kamar. Semua tercengang mendengarnya. Semilir angin
malam di pesisir berhembus menuju pedesaan Dukuh. Diantara dedaunan terdapat
tulisan kecil yang sudah kusam termakan waktu. Badan seorang gadis terlihat
terkulai lemas di sebuah kursi kecil yang berada di ruangan sebelah kamarnya.
Rambutnya di ikat kepang dua. Wajahnya terlihat pucat, bibirnya menggigil
dengan kedua giginya merapat. Gatik.
Wati…wati……..?
Panggil simbok dengan cemas.
Tak ada suara yang terdengar
ditelinga Simbok. Simbok terbelalak memandang setiap sudut rumah. Tak ada nafas
yang ia temukan. Ketika Simbok menelusuri bagian bawah meja dan sekitarnya tiba
– tiba kakinya tersandung. Ia mulai menilik lebih dekat apa yang tersandung di
kakinya.
Wati…..? Kenapa kamu
nak?
Bapak …. Bapak… wati
kenapa bapak?
Iya Mbok. Jawab
Bapak.
Bapak menuju Simbok.
Dengan tergesa – gesa Bapak dan Simbok membawa Wati ke kamar. Ia tak sadarkan
diri. Beberapa menit kemudian mata sayup Wati mulai membuka sedikit demi
sedikit.
Segelas air teh hangat
Simbok seduhkan untuk buah hatinya yang masih saja terbaring di dipan kamar.
Kondisi Wati mulai membaik. Wati sangat mengurungkan alasan kenapa ia sampai tergeletak
di bawah. Bapak hendak bertanya pada Wati, menunggu esok hari agar Wati
pulihkan dahulu keadaannya.
Semalaman Simbok dan
Bapak menyegarkan matanya dengan secangkir kopi manis. Pembicaraan Simbok dan
Bapak menjurus pada Wati yang sudah dewasa dan sudah sepantasnya dijodohkan. Sebenarnya
ini sudah dibicarakan beberapa hari yang lalu.
Dua pertiga malam
telah berlalu tanpa rasa kantuk Simbok dan Bapak. Sesekali Simbok melihat Wati
yang sedang tertidur miring menghadap tembok yang berwarna biru sambil memeluk
bantal guling.
“Bapak, anak putri
kita sudah dewasa. Sudah saatnya kita kenalkan Joko kepada Wati,” Ucap Simbok.
“Ya Mbok. Bapak
sudah memikirkan itu sejak Wati berumur 19 tahun. Kemarin Bapak ke rumah Pak
Dirman untuk bertemu Joko. Tetapi, Joko sedang menangkap ikan di laut. Bapak
ingin, kita membicarakan perjodohan ini dengan Joko dan Wati.”
“Pa’e…Pa’e.
Simbok kuatir Wati dan Joko tidak menyetujui hal ini. Padahal mereka sudah
dijodohkan sejak dalam kandungan Simbok. Simbok tidak mau mereka berpisah.
Selama 23 tahun kita sudah memisahkan mereka, kasian Pak.”
“Sabar mbok. Jangan
keras-keras nanti Wati bisa dengar pembicaraan kita.” Jawab Bapak dengan nada
berbisik.
Tubuh Wati berpindah
kesana kesini, terlihat tidak tenang. Sejak dari tadi Wati memang mendengarkan
pembicaraan Simbok dan Bapak dengan seksama. Sebenarnya Wati sudah dengar
berita ini sejak beberapa hari yang lalu. Dan inilah yang membuat Wati berpikir
keras bagaiman cara menolak permintaan rang tuanya.
“Ya Robbi. Bagaimana
jika perjodohan ini terjadi. Aku tidak tega dengan kang Yadi. Kenapa Bapak dan
Ibu terus saja ngotot[2]
menjodohkan aku dengan Joko. Apa alasan ibu?” Gundah Wati dalam hati.
Suara jangkrik sudah
mulai menghilang dan berganti jago yang bekokok pertanda hari mulai tersentuh
matahari. Langit memerah. Atis[3].
Suara azan sebelum subuh mulai terdengar di Kampung Dukuh. Bapak dan Simbok
menggelar sajadah di atas amben[4]
meskipun belum sempat memejamkan mata.
Sepi. Dingin. Tiba –
tiba dari balik pintu Wati membuka pintu kamarnya perlahan dan menuju tempat
wudhu. Setelah matahari mulai menyebarkan sinar, Wati jalan – jalan di sekitar tanggul[5]
mengghirup udara pantai tuk menyerang rasa lemasnya.
“Alangkah indahnya
Desa ini ……………!!!” Ucap Wati sampail melentangkan kedua tangannya dengan
sedikit memutarkan badan dan memejamkan mata.
Setelah ia membuka mata, ada sesosok pria di depan matanya dengan
mengenakan kemeja biru, celana hitam. Tangannya dimasukkan ke saku. Kaki
kanannya selangkah lebih maju sambil bersiul.
“Cuit ………..
Cuit………….?”
Wati langsung berbalik
badannya dan melangkahkan kaki untuk meninggalkan tanggul. Ia tau kalau
dia Joko, pria yang dijodohkan dengannya. Tapi, terdengar suara air sangat
keras
“Burrrrrrrrrrrr…………”
Joko tercebur di sungai dekat tanggul.
Mau tidak mau, Wati
datang mendekat dan mengulurkan tangannya untuk menolong Joko. Joko menerima
tangan Wati dengan perasaan dag dig dug. Dengan mengucapkan kata
hamdalah, Joko dapat naik ke atas tanggul.
“Terimakasih Wati.”
Ucap Joko dengan malu – malu.
Wati segera
melangkahkan kakinya dan cepat – cepat meninggalkan Joko. Sesegera mungkin Joko
mengibas – kibaskan bajunya yang basah terkena lumpur. Ketika Wati
sampai di rumah, Simbok memanggil Wati dan menyuruh Wati duduk bersama Bapak.
Wati sangat penasaran. Kenapa tidak angin – tidak ada hujan, Simbok tidak
biasanya formal begini.
“Ada apa Mbok? Apa
Wati berbuat salah?
“Tidak Wati, tapi
Simbok mau memperkenalkan seseorang untukmu Wat.” Jawab Simbok.
“Siapa Mbok?”
Dari balik pintu
terdengar suara salam dari seseorang lelaki muda berbaju hem pendek warna
cokelat susu.
“Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam,”
Jawab serentak dari keluarga Wati.
“Silakan duduk, Nak.
Kami sekeluarga sudah menunggu Nak Joko dari tadi,” sapa Simbok sambil
mengarahkan tangannya ke arah kursi duduk. Dan Joo segera duduk sambil terpaku
memandang wajah yang taka sing lagi. Sesosok perempuan cantik yang digodanya
pagi tadi.
“Maaf, kamu siapa
kok disini?” Tanya Joko
“Kenapa kamu yang
tanya. Harusnya aku yang bertanya, ini kan rumahku.”
“O… jadi kamu yang
diceritakan Simbok selama ini?”
Simbok memperhatikan
Joko dan Wati dengan wajah riang gembira. Melihat buah hati yang selama ini
dipisahkan bertahun – tahun. Matanya berlinang. Tapi Simbok dan Bapak segera melangsungkan
niatnya untuk membicarakan tentang Joko dan Wati.
“Nak, Joko dan Wati.
Bapak mau bicara sama kalian. Karena kalian sudah dewasa dan sudah sepantasnya
mengetahui kebenaran antara kalian. Sebenarnya kalian adalah sepasang Adam Hawa
yang dilahirkan dari kandungan Simbokmu ini. Jika Adam dan Hawa bertemu di Jabal
Rahma, maka kalian dipertemukan dalam satu ari – ari Simbok.”
Joko dan Wati saling
menatap. Kosong. Bunga jam 4 mulai sayup. Daun puti malu menguncupkan daunnya.
Angin meliuk – liukkan pepohonan di sekitar rumah Wati. Tubuh Joko terkapar
lemas sambil duduk di kursi.
“Apa ini fakta?”
Simbok, bapak bohong
kan? mana mungkin bisa seperti ini. Wati tidak mau dijodohkan sama Joko. Titik.
“Kenapa kalian
dikumpulkan disini adalah agar kalian mengetahui kebenaran yang ada bahwa
kalian akan segera kami jodohkan. Usia kalian sudah matang. Lagipula kalian
sudah ditakdirkan berjodoh sama Allah. Ikuti saja Nak.”
“Wati tidak mau Mbok, Pak. Wati sudah punya pilihan lain.”
“Nak Joko,
jangan dihiraukan kata - kata Wati. Wati memang begitu kalau lagi emosi. Nak
Joko dan Wati adalah sekandung yang memang sudah dijohkan, jadi ikuti saja apa
kehendak Allah. Kalau sampai menolak, maka kata orang zaman dulu itu ora
ilok. Apa kalian mau dimurkai oleh Pangeran ?”
Dari nenek moyang
zaman dahulu kala, jika ada seorang anak laki – laki dan perempuan lahir secara
bersamaan, maka mereka adalah jodoh yang nantinya akan hidup bersama. Jika
mereka tak dijodohkan, maka ada salah satu yang meninggal. Budaya itu sudah
dilakukan secara turun temurun.
Wati tak ada alasan
untuk menolak. Seperti petir yang menyambar di siang bolong. Jantung Wati
bedebar – debar sambil sesekali melirik wajah Joko yang sama – sama bingung.
Joko tak berucap. Hanya diam. Bisu. Tak lama kemudian, setelah berpamitan Joko
beranjak meninggalkan rumah Wati. Langkah kakinya mengguncang bumi. Senja
mengiringi kepergian Joko.
Di sepertiga malam,
Joko bermunajat pada Allah. Ia mengadu tentang perjodohannya dengan Wati yang
sekandung.
“Apakah boleh aku
menikah dengan adikku sendiri Ya Allah? Bukankah dalam Islam tak boleh jika
demikian? Tapi kenapa Bapak dan Simbok menjodohkanku dengan Wati. Meskipun
sebenarnya aku memang sangat sayang sama Wati. Tapi, setelah aku tau bahwa Wati
adalah adikku, aku tak bisa meminangnya.”
“Tak dapat ku terima
permintaan Bapak. Tapi ku ingin taat pada Bapak dan Simbok kandungku yang
selama ini terpisah. Esok hari ku akan bertemu dengan Bapak untuk memberi
keputusan.”
Keesokan harinya,
Joko berkunjung ke rumah Bapak. Ia mengadu semua masalah yang mengganjal di
hati. Tapi hasilnya NIHIL. Joko dan Wati harus segera dinikahkan. Mereka
bersikukuh menyampaikan argumentnya. Semua tak ada musyawarah. Keputusan Bapak
dan Simbok tak bisa dirubah.
Ketika pagi
menjelang Bapak pergi ke sawah, Bapak melihat secarik amplop di depan pintu
rumah yang tertulis nama Joko sebagai pengirim. Ia menuliskan bahwa ia setuju
dengan perjodohan itu dan siap untuk segera menikah sebagai wujud ketaatan dia
kepada kedua orang tua.
Hari pernikahan Joko
dan Wati jatuh pada jumat wage. Semua peralatan yang dibutuhkan Simbok siapkan
dengan cepat. Wati tetap saja termenung melihat orang – orang sibuk menyiapkan
acara pernikahannya.
Malam ini penuh
dengan tanda tanya.
“Mengapa Joko yang
sudah tau hukum pernikahan ini, ia tetap saja menyetujui? Andaikan hari ini aku
bisa meminta padaMu Ya Allah, nikahkan aku dengan orang yang halal bagiku.”
Pinta Wati dalam hati.
Waktu telah
menunjukan pukul 12.00, 1 jam lagi alam akan menyaksikan kisah perjodohan dua
saudara. Angin mengibas – ibaskan tamanam di sekitar rumah Wati. Para tamu
berdatangan dari segala penjuru desa. Semua ruangan sesak dengan orang – orang
yang akan menyaksikan ijab qobul Wati dan Joko. Perjodohan Wati dan Joko adalah
suatu kebanggaan bagi Desa Dukuh.
Hari semakin panas.
Suasana semakin ramai. Wati jalan menuju mushola denga diiringi shalawat oleh
grup hadroh. Di mushola Joko sudah menunggu Wati.
Sebelum ijab qabul
dimulai, suasana semakin riuh dengan tawa bahagia semua hadirin. Dalam sekejap,
mulai khidmat. Joko meminta waktu untuk menyampaikan beberapa hal kepada
penghulu.
“Hadirin yang kami
hormati. Sebenarnya ada 1 hal yang akan saya sampaikan kepada para hadir. Pernikahan
ini, bukanlah pernikahan saya dengan Wati, tapi yang lebih berhak adalah laki –
laki di samping pintu yang menggunakan baju batik berwarna hijau. Sebelumnya saya
mohon maaf jika sudah berbohong tentang pernikahan ini.
Joko menghampiri
laki - laki itu untuk dihadapkan dengan penghulu. Beberapa saat kemudian, Joko
meninggalkan mushola dengan hati lega karena sudah melakukan apa yang terbaik
untuk keadaan.
***
Sabtu, 31 Januari 2015
Puisi Cinta (2011-2012)
Aufa
Di Kaki Gunung Slamet
Kabut putih
membendung jalan mata
ku masuk,
menelusuri gelapnya
anak-anak
berkejaran di balik-balik gubug bambu ditengah-tengah persawahan
Ku nantikan
kekasih pagi menghampiri mereka yang berkejaran
Aufa,
Berhentilah mencarinya…
Hari sedang
menangis, tak usah kau menanti kekasihmu di pagi ini
Biarkan ia
bersembunyi dalam indahnya hari
Aufa,
Matamu telah
sayu
Semalaman kau bercumbu
dalam kepatuhan
Maka. Kekasihmu
tlah singgah di hatimu
Pagi ini,
kekasihmu tlah menyatu dalam hari
Sawung
Mas, Muara Cinta
Teruntuk
: Sang Penjaga Hati
Ingatkah engkau, bambubambu
persaksian
Saat kau sentuh jari jemari ini
Penuh keraguan
Kini kali pertama kutatap matamu,
bersama angin dalam remang lampu
Wajah manismu, menebarkan cahaya
dalam sirat mataku
Kau yang bersama malam
Bersiap mengejar keraguan, hingga
Kau cumbu malam ini dengan senyuman
Sawung Mas, Muara Cinta
Kau gapai hatiku yang kini sepi
Kau menyambutku, dengan keabadian
Maka kau bersiap
Kau cumbu malam ini dengan senyuman
gadisembun,
2012
Air Derita
Sedari
tadi kupandangi lautan di seberang lautan sana
Ku
tau tak ada ikan yang akan mennjelma diriMu
Tapi gemuruh semakin menderu
Kasih?
Kurasakan
getaran bumi menyapa dunia ini
TANPA
PERMISI
19 Agusrtus 2012
SALAM
Salam
Kutemui
engkau di ujung batu
Salam
Kau
bersembunyi di balik rembulan itu?
Tempat
kau menepikan cerita
Tempat
kau meletakkan kepalamu
Salam
Kau
tundukkan kepala ketika kau bertemu mentari
Kau
diamkan hari ketika senja tlah usai
Salam,
salamku untuk senyummu
19 Agstus 2012
Melati Putih
Sedang aku
berklana
Menerawang sang
cahaya
Hati kecil ini
melirik
Celah ruang
disana
Kudengar rintihan sanubari melati
Wahai engkau anak sang cahaya
Bukankah hari terang
Ibumu memberikan pencerahan
Hingga kini
hatimu layu kekeringan
Tetaplah senyum
dalam
Kesucian
Dzikir Cinta
Hujan senja.
Kala,
Dzikir cinta
bergelayut
Mengikis iman
sejoli
Hujan, berikan
persembahan cerita
Dzikir cinta
bergelayut
Debu Kematian
Hujan,
Siramilah
hatiku akan iman
Bawa diriku
hanyut
Berkelana
Hingga kutemukan
titik debu kematian
Rindu
Oleh : diery of dedi
Bersandar ku di
pangkuan rumput ilalang
Hembusan angin
memeluk jiwa yang kering
Menciumi
harumnya bunga langit
Perasaan ini
goyah hingga pelipis mentari
Tak kuasa
bergelut dengan perasaan
Andai saja rasa
rindu ini mampu ku ikat
Pastilah takkan
pernah lepas bersama kupu-kupu yang mengitari dunia kerinduan
CINTA
Aku ini cinta
Berani
menghadang serigala
Bahkan manusia
Aku ini cinta
Membutakan hati
Berbisik dengan
sanubari
Aku ini cinta
Semua orang butuh aku
Karna..
Akulah candu jiwa
Puisi Cinta
Ada cinta
risau
hati ini
dalam
pikiran dan anganku
ada
engkau dalam bayangan
riang
gembira
sedih
berduka
semua
karena cinta
kenapa,kenapa??
Kenapa kau ciptakan itu semua
Bila hanya membuat aku tak berarah
Hararuskah aku merasakan
Inikah anugerah darimu Tuhan?
Hasrat cinta terindah
Luka lara yang mendalam
Semua Engkau ciptakan
Keraguan
Dalam pikiran da anganku
Ada engkau dalam benaku
Terang siang gelap malam
Hanya engkau yang aku tunggu
Bila engkau tiada
Hari terasa sepi
Langitpin gelap menerpa
Detak nadi terasa ramai
Setiap engkau di dekatku
Sehari saja tak bertemu
Setahun pila di rundung rindu
Sering hati bertanya
Mungkinkah ini cinta?
Atau hanya nafsu belaka
Penyesalan
Andai waktu bisa terulang
Kan kuperbaiki semua kesalahan
Merubah keadaan
Megapa ini semua terjadi
Tanpa kusadari
Dan barkan waktu merebut semua ini
Andai aku punya keberanian
Tuk ungkapkan semua kenyataan
Bila aku..??
Kenapa itu begitu sulit
Haruskah selamanya aku merasakan
Beban cinta yang ku pendam
Sampai kapan aku bertahan
Menutupi cinta
Cinta yang belum sempat aku nyatakan....
Kerinduan
Malam begitu dingin
Gemerlap bintang bertaburan
Kurindukan engkau sayang
Dimanakah engkau berada
Dimanakah???
Andaikan kau tau getar cinta yang kurasakan
Seandainya..
Waktu pertemukan kita
Kan ku peluk dirimu
Dan takkan kulepaskan
Dimana
dia???
Lirih sepi
Mencekeram diri
Awan kelam
Langitpun menangis
Ku disini meratap sepi
Bagai lentera dam jendela
Dimanakah engkau berada
Kan kucari ke ujung dunia
Walau berjuta rintangan
Tak kalah aku sampai tujuan
Fatamorgana
Setetes embun di kala pagi
Tak jua urungkan gundah hati
Sejuta kerlip
bintang
Tak mampu jua tuk mengobati
Seakan tiada lagi harapan
Tak ada lagi keinginan
Bagaimana bisa ku bayangkan
Bila tanpa rasa keyakinan
Tuk bisa mewujudkan
Mimpi di kala indahnya mentari
Seandainya
engkau
Bila malam telah tiada
Bila siangpun tiba
Kuingin selalu di dekatmu
Mendengar suara manismu
Melihat senyum di wajahmu
Menangis dan tertawa bersamamu
Seandainya engkau tau
Aku selalu ingin ada untukmu
Seandainya engkau tau
Ketulusan cinta yang ku pendam untukmu
Ku ingin kau tau semua itu
Bila aku ingin memilikimu
Salahkah
Saat kerinduanku semakin dalam
Saat kegalauanku semakin tercuram
Akankah dirimu kan membuktikan
Rasa sayangmu pada diriku
Salahkah
Bila aku merindumu
Salahkah
bila aku mengharapkanmu
dan salahkah
ila aku mencintaimu
tapi apalah dayaku
itulah yang ku mampu
selalu ingin di dekatmu
Kutanya cinta
Realita cinta yang kurasa
Selalu membuatku
Bimbang merasakanya
Mengapa?
Cinta bisa membawa kita
Ke jurang neraka yang selalu menyiksa
Tapi,,
Cinta juga bisa membawa kita
Menuju indahnya surga
Terdapat banyak kebahagiaan disana
Semua itu sulit terduga
Duka dan bahagia
Selalu menyertai cinta
Untaian kekasih
Hari-hari tersa sepi
Tanpa kehadiranmu
Kerinduan semakin dalam
Tanpa melihat wajah manismu
Jantung berdetak kencang
Saat mengingatmu
Jiwa dan raga menyatu
Mendengar kata-kata rayuanmu
Tak ada daya
Saat kau ucap kata cinya dari bibirmu
Aku kan selu merindukanmu
Meskipun kau jauh dariku
Aku kan sabar menungu
Kedatanganmu untukku
Pilihan terbaik
Sesuatu yang tak ku duga
Segala yang tak pernah ku rasa
Jiwa yang lelah
Hati selalu menahan gundah
Sebenarnya....
Cinta selalu ada
Antara aku dan dia
Namun,,
Beginilah keadaanya
Bahagia takkan selamanya
Dan cinta tak mesti bersama
Kata pisahlah yang terbaik
Walupun banyak genangan air mata
Kehampaan hari
bahagia
Tak kurasa dan tak ku duga
Hari ini datang begitu saja
Setelah sekian lama kudamba
Oh.....
Betapa sedih dan kecewa
Semua harapan telah sirna
Merintih...
Menangis...
Sungguh tiada ingin
Sungguh tiada mau
Derasnya hujan di wajah ini
Mengharapkan engkau hadir
Mamberi senyuman
Berikan aku jawaban
Apa di balik semua penderitaan
Biarkan hati memilih
Kucoba renungi semua
Menghela nafas kebimbangan
Diantara dia dan dirinya
Kucoba menjauh
Sejenak tuk memilih
Mengapa aku tak bisa
Mungkinkah bukan dia dan dirinya?
Namun, inilah jalannya
Ku harus menyakiti semua
Menjalani kenyataan yang ada
Bahwa engkaulah yang ku cinta
Soulmate
Di tengah keramaian dunia
Berjuta insan manusia di dalamnya
Dan satu diantara mereka
Tercipta untukku
Dalam pencarianku selama ini
Tak berakhir sia-sia
Dia itu memang ada
Namun,ini belumlah saatnya
Aku dan dia bersama adanya
Hanya waktulah yang bisa menyatukan kita
Kuraih dan kulepas
Heningnya malam,berjuta bintang
Gemuruh angin,tetes-tetes air
Seperti selimut yang selalu menghangatkan
Laksan mata yang terpancar cahaya kesilauan
Betapa ringkih keping-keping hati ini
Batapa perih
kaki yang ku langkahkan
Semata pada bayangan fana
Berdiri dan kokoh meski dihempas angin
Lidah tak bertulang
Tak kusangka semua sirna
Kau nodai kesucian cinta
Sebuah anak sungai tercipta
Kini ku harus relakan semua
Melepas cintanya
Dewi malam
Hei si cantik Sang Dewi Mlam
Tahukah rngkau??
Sinar terangmu menembus hati ini
Risau yang kurasakan
Bagai air terpecah gelombang
Temanilah aku
Tetap terangi sela-sala hatiku
Kan kujadikan engkau
Pelipur semua lara
Bantulah aku
Dalam pencarian cintaku
Dan jangan biarkan
Setes air mengalir di wajahku
Keabadian
Tuhan tolonglah diriku
Tak kuasa ku melupakannya
Tak berdaya
Tuk jauh darinya
Meski tlah ada seekor merpati putih di hadapanku
Tetap ku tak bisa
Betapa sulit menehan lara
Yang terpendam di jiwa
Kesucian cintaku takkan sirna
Kan ku jaga selamanya
Tentang dia
Kini barulah ku sadari
Setelah sekian lama kau menanti
Diriku dalam pelukanmu
Walau seribu rayuan menggoda
Kau tak pernah jera
Demi kepastian cinta
Berjuta lara yang kau rasa
Kata dusta delalu kau terima
Kau korbankan jiwa raga
Tuk meraih cinta yang kau damba
Betapa suci cinta yang kau punya
Kesabaran
yang selalu kau jaga
Membuatku tak percaya
Bahwa kau adalah nyata
Satu cinta
Gelap tak bercahaya
Mati binasa tak tersisa
Tak tau kemana arah kaki kan berjalan
Bayangan hitam menyambut rindu
Getar hati seakan pertanda
Bahwa engkau yang aku tunggu
Mambawa semangat dalam hidupku
Berjuta keindahan
Dan segala mimpi yang kupunya
Tak ada yang bisa
Menumbuhkan rasa indah dalam hatiku
Hanya engkau
Satu cinta yang kan ku jaga
Hingga nafas panjang tlah terhenti
Adilkah
Telah lama kau jaga kesetiaan cinta
Disaat aku tak membalassnya
Seiring berjalannya waktu
Dan pengorbanan cintamu
Luluh sudah hati ini
Namun,
Semua yang tlah kurasa
Dan kesungguhan cinta yang ku punya
Kini tlah terbuang
sia-sia
Kaupun tak mempedulikannya
Betapa hancur hati dan cintaku
Melihat tlah tak berartinya
Pengorbanan cintaku
Tapi tak mangapa
Mungkin ini sudah jalan takdirnya
Merasa kehilangan
Engkau bagai cahaya
Yang menerangi setiap langkahku
Setetes embun di pagi hari
Seperti hatimu yang suci
Kini terasa hampa
Menjalani hidup tanpa hadirnya
Ingin rasa tak merasa
Rasa perih yang masih tersisa
Bayangnya telah tiada
Andai ...
Namun tiada mungkin
Tak ada lagi dia untukku
Dan biarlah kusimpan kenangan tentangnya
Berharap kembali
Bisikan-bisikan suaramu
masih terngiang di hidupku
tak terasa kita tlah terpisah dari cinta
bersama waktu yang menyertainya
berulang kali aku mencoba
menepis bayangan itu
tapi semakin dalam rasa rindu
bisakah yang dlu kembali berrsamaku
ku ingin merasakan lagi
kelembutan kasihmu
kebahagiaan saat bersamamu
Di balik wajah
Senyuman indah yang terpancar
Binar-binar mata yang menawan
Tinggi tegak
tak terkalahkan
Tingkahmu yang lembut
Tuturmu bagai bangsawan
Sungguh tak terbayangkan
Dirimu bagai mawar berduri
Yang bisa menusuk dan menyakiti
Aku yang tak berdaya ini
Kupasrahkan semua yang kau beri
Dan biarkan kau terus menyakiti
Hanya mimpi
Di kala hati mengingat semuanya
Tersadarlah pikiran ini
Menyadari apa yang ada
Keingingan ini takkan mungkin lagi
Tak ada lagi kebahagiaan di hati
Rasa perih ini tak bisa terobati
Bila saja semua itu kembali
Mungkin ini semua takkan terjadi
Namun kenyataan tak bisa dipungkiri
Biarlah semua ini kan selalu tersimpan di hati
Dan hanya kan menjadi sebuah mimpi
Boyfriend
Saat pertama kali kurasa
Ternyata tak seindah yang
kuduga
Sebelumnya..
Kuingin menjalaninya
Namun,
Kuurungkan semuanya
Semua tlah terjadi
Ku sudah melepas masa itu
Hanya ketulusan yang aku punya
Semoga akan indah pada waktunya
Hanya sebuah rindu
Setelah ku pilih selain dirimu
Kutinggalkan semua tentangmu
Tanpa ragu
Ikatan tlah menyandang padaku
Ketiadaanmu di hari-hariku
Ternyata?
Banyak rasa yang ingin terucap untukmu
Kau pergi tak tertinggal
Dalam hati rindu tak menentu
Mengingat dirimu kenanganku
Setitik pilu,setetes air yang semu
Hanya untuk keindahan di masa lalu
Bagaimana bisa
Di relung hati ini
tlah terlukis bayang-bayang diri
walau sebatas bayang semu
keraguan hati ini
tak bisa tersapu
walau badai menerjang
hempasan ombakpun datang
hati ini Cuma satu
andaikan seribu
tiada kata untuk semua
terdiam dan terus tedam
seolah tak melihat
tak bisa terjadi
bila tlah berdua
hanya bisa menatap sendu
pada insan di hadapanku
luka hati
segala rasa yang kurasa
tak pernah ku dapatkan tawa
hanya lara yang melanda
bila hari esok akan tiba
harapan bahagia selalu ku damba
keinginan itu musnah begitu saja
memang hati diam
tersimpan dalam-dalam
berharap dengan satu kebahagiaan
Tegar
Ku takkan menangis
Kutakkan bersedih
Ku akan tertawa
Ku akan bahagia
Apapun yang ada di hati
Sekejam apapun dunia ini
Tak pduli apa itu cobaan
Kan kuhadapi,takkan kusesalkan
Senyumku kan ku tebarkan
Tangisan itu ku hilangkan
Canda tawa ria akan selalu ku bawa
Tuk meraih abadinya kebahagiaan
Kenyataan cinta
Ketika itu bersamanya
Waktu selalu berganti membawa sebuah mimpi
Keresahan hati seolah tak ada yang peduli
Masa indah dulu,kini menyeru
Datang dalam lamunanku
Aku meragu
Tentang apa itu kepastian?
Ku terbangun
Kusadari
ini hidupku
aku mampu
Pasti itu??
Bimbang
melanda dunia diriku
Keraguan selalu berbisik
Mengusik hati
Aku jenuh,semakin tak tertahan
Aku akui
Aku berani
Kepastian itu tlah terungkap
Ini bukan penyesalan
Bukan juga permainan
Ini hanya sebatas kepastian
Ada cinta
risau
hati ini
dalam
pikiran dan anganku
ada
engkau dalam bayangan
riang
gembira
sedih
berduka
semua
karena cinta
kenapa,kenapa??
Kenapa kau ciptakan itu semua
Bila hanya membuat aku tak berarah
Hararuskah aku merasakan
Inikah anugerah darimu Tuhan?
Hasrat cinta terindah
Luka lara yang mendalam
Semua Engkau ciptakan
Keraguan
Dalam pikiran da anganku
Ada engkau dalam benaku
Terang siang gelap malam
Hanya engkau yang aku tunggu
Bila engkau tiada
Hari terasa sepi
Langitpin gelap menerpa
Detak nadi terasa ramai
Setiap engkau di dekatku
Sehari saja tak bertemu
Setahun pila di rundung rindu
Sering hati bertanya
Mungkinkah ini cinta?
Atau hanya nafsu belaka
Penyesalan
Andai waktu bisa terulang
Kan kuperbaiki semua kesalahan
Merubah keadaan
Megapa ini semua terjadi
Tanpa kusadari
Dan barkan waktu merebut semua ini
Andai aku punya keberanian
Tuk ungkapkan semua kenyataan
Bila aku..??
Kenapa itu begitu sulit
Haruskah selamanya aku merasakan
Beban cinta yang ku pendam
Sampai kapan aku bertahan
Menutupi cinta
Cinta yang belum sempat aku nyatakan....
Kerinduan
Malam begitu dingin
Gemerlap bintang bertaburan
Kurindukan engkau sayang
Dimanakah engkau berada
Dimanakah???
Andaikan kau tau getar cinta yang kurasakan
Seandainya..
Waktu pertemukan kita
Kan ku peluk dirimu
Dan takkan kulepaskan
Dimana
dia???
Lirih sepi
Mencekeram diri
Awan kelam
Langitpun menangis
Ku disini meratap sepi
Bagai lentera dam jendela
Dimanakah engkau berada
Kan kucari ke ujung dunia
Walau berjuta rintangan
Tak kalah aku sampai tujuan
Fatamorgana
Setetes embun di kala pagi
Tak jua urungkan gundah hati
Sejuta kerlip
bintang
Tak mampu jua tuk mengobati
Seakan tiada lagi harapan
Tak ada lagi keinginan
Bagaimana bisa ku bayangkan
Bila tanpa rasa keyakinan
Tuk bisa mewujudkan
Mimpi di kala indahnya mentari
Seandainya
engkau
Bila malam telah tiada
Bila siangpun tiba
Kuingin selalu di dekatmu
Mendengar suara manismu
Melihat senyum di wajahmu
Menangis dan tertawa bersamamu
Seandainya engkau tau
Aku selalu ingin ada untukmu
Seandainya engkau tau
Ketulusan cinta yang ku pendam untukmu
Ku ingin kau tau semua itu
Bila aku ingin memilikimu
Salahkah
Saat kerinduanku semakin dalam
Saat kegalauanku semakin tercuram
Akankah dirimu kan membuktikan
Rasa sayangmu pada diriku
Salahkah
Bila aku merindumu
Salahkah
bila aku mengharapkanmu
dan salahkah
ila aku mencintaimu
tapi apalah dayaku
itulah yang ku mampu
selalu ingin di dekatmu
Kutanya cinta
Realita cinta yang kurasa
Selalu membuatku
Bimbang merasakanya
Mengapa?
Cinta bisa membawa kita
Ke jurang neraka yang selalu menyiksa
Tapi,,
Cinta juga bisa membawa kita
Menuju indahnya surga
Terdapat banyak kebahagiaan disana
Semua itu sulit terduga
Duka dan bahagia
Selalu menyertai cinta
Untaian kekasih
Hari-hari tersa sepi
Tanpa kehadiranmu
Kerinduan semakin dalam
Tanpa melihat wajah manismu
Jantung berdetak kencang
Saat mengingatmu
Jiwa dan raga menyatu
Mendengar kata-kata rayuanmu
Tak ada daya
Saat kau ucap kata cinya dari bibirmu
Aku kan selu merindukanmu
Meskipun kau jauh dariku
Aku kan sabar menungu
Kedatanganmu untukku
Pilihan terbaik
Sesuatu yang tak ku duga
Segala yang tak pernah ku rasa
Jiwa yang lelah
Hati selalu menahan gundah
Sebenarnya....
Cinta selalu ada
Antara aku dan dia
Namun,,
Beginilah keadaanya
Bahagia takkan selamanya
Dan cinta tak mesti bersama
Kata pisahlah yang terbaik
Walupun banyak genangan air mata
Kehampaan hari
bahagia
Tak kurasa dan tak ku duga
Hari ini datang begitu saja
Setelah sekian lama kudamba
Oh.....
Betapa sedih dan kecewa
Semua harapan telah sirna
Merintih...
Menangis...
Sungguh tiada ingin
Sungguh tiada mau
Derasnya hujan di wajah ini
Mengharapkan engkau hadir
Mamberi senyuman
Berikan aku jawaban
Apa di balik semua penderitaan
Biarkan hati memilih
Kucoba renungi semua
Menghela nafas kebimbangan
Diantara dia dan dirinya
Kucoba menjauh
Sejenak tuk memilih
Mengapa aku tak bisa
Mungkinkah bukan dia dan dirinya?
Namun, inilah jalannya
Ku harus menyakiti semua
Menjalani kenyataan yang ada
Bahwa engkaulah yang ku cinta
Soulmate
Di tengah keramaian dunia
Berjuta insan manusia di dalamnya
Dan satu diantara mereka
Tercipta untukku
Dalam pencarianku selama ini
Tak berakhir sia-sia
Dia itu memang ada
Namun,ini belumlah saatnya
Aku dan dia bersama adanya
Hanya waktulah yang bisa menyatukan kita
Kuraih dan kulepas
Heningnya malam,berjuta bintang
Gemuruh angin,tetes-tetes air
Seperti selimut yang selalu menghangatkan
Laksan mata yang terpancar cahaya kesilauan
Betapa ringkih keping-keping hati ini
Batapa perih
kaki yang ku langkahkan
Semata pada bayangan fana
Berdiri dan kokoh meski dihempas angin
Lidah tak bertulang
Tak kusangka semua sirna
Kau nodai kesucian cinta
Sebuah anak sungai tercipta
Kini ku harus relakan semua
Melepas cintanya
Dewi malam
Hei si cantik Sang Dewi Mlam
Tahukah rngkau??
Sinar terangmu menembus hati ini
Risau yang kurasakan
Bagai air terpecah gelombang
Temanilah aku
Tetap terangi sela-sala hatiku
Kan kujadikan engkau
Pelipur semua lara
Bantulah aku
Dalam pencarian cintaku
Dan jangan biarkan
Setes air mengalir di wajahku
Keabadian
Tuhan tolonglah diriku
Tak kuasa ku melupakannya
Tak berdaya
Tuk jauh darinya
Meski tlah ada seekor merpati putih di hadapanku
Tetap ku tak bisa
Betapa sulit menehan lara
Yang terpendam di jiwa
Kesucian cintaku takkan sirna
Kan ku jaga selamanya
Tentang dia
Kini barulah ku sadari
Setelah sekian lama kau menanti
Diriku dalam pelukanmu
Walau seribu rayuan menggoda
Kau tak pernah jera
Demi kepastian cinta
Berjuta lara yang kau rasa
Kata dusta delalu kau terima
Kau korbankan jiwa raga
Tuk meraih cinta yang kau damba
Betapa suci cinta yang kau punya
Kesabaran
yang selalu kau jaga
Membuatku tak percaya
Bahwa kau adalah nyata
Satu cinta
Gelap tak bercahaya
Mati binasa tak tersisa
Tak tau kemana arah kaki kan berjalan
Bayangan hitam menyambut rindu
Getar hati seakan pertanda
Bahwa engkau yang aku tunggu
Mambawa semangat dalam hidupku
Berjuta keindahan
Dan segala mimpi yang kupunya
Tak ada yang bisa
Menumbuhkan rasa indah dalam hatiku
Hanya engkau
Satu cinta yang kan ku jaga
Hingga nafas panjang tlah terhenti
Adilkah
Telah lama kau jaga kesetiaan cinta
Disaat aku tak membalassnya
Seiring berjalannya waktu
Dan pengorbanan cintamu
Luluh sudah hati ini
Namun,
Semua yang tlah kurasa
Dan kesungguhan cinta yang ku punya
Kini tlah terbuang
sia-sia
Kaupun tak mempedulikannya
Betapa hancur hati dan cintaku
Melihat tlah tak berartinya
Pengorbanan cintaku
Tapi tak mangapa
Mungkin ini sudah jalan takdirnya
Merasa kehilangan
Engkau bagai cahaya
Yang menerangi setiap langkahku
Setetes embun di pagi hari
Seperti hatimu yang suci
Kini terasa hampa
Menjalani hidup tanpa hadirnya
Ingin rasa tak merasa
Rasa perih yang masih tersisa
Bayangnya telah tiada
Andai ...
Namun tiada mungkin
Tak ada lagi dia untukku
Dan biarlah kusimpan kenangan tentangnya
Berharap kembali
Bisikan-bisikan suaramu
masih terngiang di hidupku
tak terasa kita tlah terpisah dari cinta
bersama waktu yang menyertainya
berulang kali aku mencoba
menepis bayangan itu
tapi semakin dalam rasa rindu
bisakah yang dlu kembali berrsamaku
ku ingin merasakan lagi
kelembutan kasihmu
kebahagiaan saat bersamamu
Di balik wajah
Senyuman indah yang terpancar
Binar-binar mata yang menawan
Tinggi tegak
tak terkalahkan
Tingkahmu yang lembut
Tuturmu bagai bangsawan
Sungguh tak terbayangkan
Dirimu bagai mawar berduri
Yang bisa menusuk dan menyakiti
Aku yang tak berdaya ini
Kupasrahkan semua yang kau beri
Dan biarkan kau terus menyakiti
Hanya mimpi
Di kala hati mengingat semuanya
Tersadarlah pikiran ini
Menyadari apa yang ada
Keingingan ini takkan mungkin lagi
Tak ada lagi kebahagiaan di hati
Rasa perih ini tak bisa terobati
Bila saja semua itu kembali
Mungkin ini semua takkan terjadi
Namun kenyataan tak bisa dipungkiri
Biarlah semua ini kan selalu tersimpan di hati
Dan hanya kan menjadi sebuah mimpi
Boyfriend
Saat pertama kali kurasa
Ternyata tak seindah yang
kuduga
Sebelumnya..
Kuingin menjalaninya
Namun,
Kuurungkan semuanya
Semua tlah terjadi
Ku sudah melepas masa itu
Hanya ketulusan yang aku punya
Semoga akan indah pada waktunya
Hanya sebuah rindu
Setelah ku pilih selain dirimu
Kutinggalkan semua tentangmu
Tanpa ragu
Ikatan tlah menyandang padaku
Ketiadaanmu di hari-hariku
Ternyata?
Banyak rasa yang ingin terucap untukmu
Kau pergi tak tertinggal
Dalam hati rindu tak menentu
Mengingat dirimu kenanganku
Setitik pilu,setetes air yang semu
Hanya untuk keindahan di masa lalu
Bagaimana bisa
Di relung hati ini
tlah terlukis bayang-bayang diri
walau sebatas bayang semu
keraguan hati ini
tak bisa tersapu
walau badai menerjang
hempasan ombakpun datang
hati ini Cuma satu
andaikan seribu
tiada kata untuk semua
terdiam dan terus tedam
seolah tak melihat
tak bisa terjadi
bila tlah berdua
hanya bisa menatap sendu
pada insan di hadapanku
luka hati
segala rasa yang kurasa
tak pernah ku dapatkan tawa
hanya lara yang melanda
bila hari esok akan tiba
harapan bahagia selalu ku damba
keinginan itu musnah begitu saja
memang hati diam
tersimpan dalam-dalam
berharap dengan satu kebahagiaan
Tegar
Ku takkan menangis
Kutakkan bersedih
Ku akan tertawa
Ku akan bahagia
Apapun yang ada di hati
Sekejam apapun dunia ini
Tak pduli apa itu cobaan
Kan kuhadapi,takkan kusesalkan
Senyumku kan ku tebarkan
Tangisan itu ku hilangkan
Canda tawa ria akan selalu ku bawa
Tuk meraih abadinya kebahagiaan
Kenyataan cinta
Ketika itu bersamanya
Waktu selalu berganti membawa sebuah mimpi
Keresahan hati seolah tak ada yang peduli
Masa indah dulu,kini menyeru
Datang dalam lamunanku
Aku meragu
Tentang apa itu kepastian?
Ku terbangun
Kusadari
ini hidupku
aku mampu
Pasti itu??
Bimbang
melanda dunia diriku
Keraguan selalu berbisik
Mengusik hati
Aku jenuh,semakin tak tertahan
Aku akui
Aku berani
Kepastian itu tlah terungkap
Ini bukan penyesalan
Bukan juga permainan
Ini hanya sebatas kepastian
Langganan:
Komentar (Atom)